Tekan Konsumsi Minuman Manis, Indonesia Belajar dari Singapura

Sugeng rawuh Ankaraataemlak di Situs Kami!

Ankaraataemlak, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono ingin peraturan minuman manis kemasan (MBDK) di Indonesia bisa mencontoh Singapura. “Beberapa hari lalu di Singapura saya lihat ada label grup A, B, C, D. Golongan A paling jelek, D paling sehat dari semua makanan kemasan di Singapura,” kata Wakil Menteri Kesehatan Dante saat menyosialisasikan urgensi pengenaan cukai pada MBDK di Jakarta, Senin (29/1/2024). Tekan Konsumsi Minuman Manis, Indonesia Belajar dari Singapura

Sentra Medika Bangun Pusat Layanan Kanker di Bogor, Beroperasi Tahun 2025

Wakil Menteri Kesehatan memperkirakan bahwa penerapan upaya ini di Indonesia akan membantu masyarakat menemukan makanan terbaik untuk dibeli dan dikonsumsi, seperti yang dilakukan masyarakat di Singapura. “Kami akan melakukan hal yang sama nanti. Pangan mana yang A, mana yang B, mana yang C, yang mana D, ditentukan oleh banyaknya garam, kadar gula, dan banyaknya lemak dalam kemasannya,” kata Wamenkes.

Dante mengatakan peraturan ini akan sangat membantu Singapura dalam menyelesaikan masalah diabetes. Studi memperkirakan bahwa akan ada satu juta pasien diabetes pada tahun 2030. “Sekarang 10 persen penduduk kita menderita diabetes. Jadi kalau jumlah penduduknya 280 juta jiwa, berarti 28 juta penduduk kita menderita diabetes,” kata Wakil Menteri Kesehatan.

Untuk itu, kata Dante, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia berupaya melakukan apa yang dilakukan Singapura dengan mulai mengenakan pajak cukai pada MBDK. Ia menjelaskan, aturan tersebut saat ini sedang disosialisasikan dan dikoordinasikan dengan pemangku kepentingan terkait, termasuk bekerja sama dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), terkait besaran tarif cukai yang akan diterapkan.

“Ini akan kita laksanakan secepatnya, tidak ada hambatan nyata, tahun ini sudah disahkan, sudah dipresentasikan. Ratifikasi akan dilakukan segera setelah penandatanganan karena kami sudah melakukan kajian ilmiahnya,” jelas MP. Menteri Kesehatan.

Pengenaan cukai pada MBDK, kata Dante, merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi risiko penyakit tidak menular yang salah satunya disebabkan oleh MBDK. Untuk itu diharapkan kerja sama pemangku kepentingan terkait dalam penerapan aturan ini guna mengurangi konsumsi gula masyarakat sebagai salah satu penyebab penyakit diabetes.

Data yang dihimpun Kementerian Kesehatan menunjukkan 28,7 persen masyarakat Indonesia memiliki konsumsi gula, garam, dan lemak yang melebihi batas. Tekan Konsumsi Minuman Manis, Indonesia Belajar dari Singapura