Kominfo Bahas Tantangan Jurnalisme di Tengah Distrupsi Digital

Sugeng rawuh Ankaraataemlak di Portal Ini!

Ankaraataemlak, JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Informasi Publik menggelar diskusi bertajuk “Tantangan Jurnalistik di Era Disrupsi Digital dan Manipulasi Informasi” dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional 2024. Kominfo Bahas Tantangan Jurnalisme di Tengah Distrupsi Digital

Fokus utama diskusi ini adalah bagaimana melestarikan peran media di era disrupsi digital.

BACA JUGA: Kominfo Tambah Instruktur Informasi Publik Simak 3 Tips Lolos Program IISMA dari Awardee

Pengamat media Agus Sudibyo mengatakan, dunia jurnalistik saat ini menghadapi kesulitan serius dalam penerapan algoritma di Internet.

Sayangnya mesin pencari saat ini didominasi oleh berbagai platform digital seperti Facebook, Apple, dan Microsoft.

BACA JUGA: Arma Leather and Craft karya BUMN Rembang masuk ke pasar China

Argumen mengenai status media didasarkan pada dua asumsi, yaitu dualitas institusi sosial dan ekonomi.

Menurut Agus, keduanya saling memberikan pengaruh terhadap keberlangsungan ekosistem media di tanah air dan global.

BACA JUGA: BRI Life akan bayar klaim dan manfaat asuransi Rp 5,59 triliun hingga 2023

“Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya, di mana hanya sedikit perusahaan yang mampu menguasai berbagai sektor, terutama ekosistem media, hampir di mana pun di dunia, terutama di Indonesia,” jelas Agus.

Oleh karena itu, media, khususnya online, harus mematuhi algoritma yang dimonopoli oleh platform tersebut jika ingin bertahan dan menghasilkan pendapatan iklan. Pada saat yang sama, media konvensional hanya berkembang biak di ekosistem yang sangat kecil.

Pada saat yang sama, sumber media massa saat ini juga berasal dari jejaring sosial dan bukannya memberikan informasi berkualitas mengenai kontennya.

Oleh karena itu, berita yang dilaporkan hanya sebatas memberikan informasi yang sebenarnya Anda temukan di media sosial. Kominfo Bahas Tantangan Jurnalisme di Tengah Distrupsi Digital

“Saat ini 58 persen periklanan media digital dikuasai oleh Google, disusul Meta sebesar 2,4 persen. Oleh karena itu, media konvensional hanya bermain di wilayah 18 persen atau sisanya. Hal ini hampir sama dengan yang terjadi di Indonesia, jelas Agus. . .

Mantan redaktur Tempo ini mengungkapkan, salah satu kiat mengakhiri monopoli tersebut adalah dengan menggunakan sistem berlangganan bagi pembaca.

Hal ini karena media didorong oleh lalu lintas iklan yang didorong oleh platform tersebut. (chi/jpnn)